pesan buat remaja masa kini

Remaja adalah potensi besar perubahan, juga potensi kehancuran. Manakala, remaja berprestasi, maka akan terbentuklah perubahan dalam suatu negeri. Sebaliknya, suatu negeri bakal hancur jika remajanya hancur.

Melihat remaja saat ini, nampaknya agak memperihatinkan. Kebanyakan dari mereka menjadi amoral, bermaksiat dan jauh dari islam. Kita bisa lihat bagaimana remaja muslim saat ini justru jauh dari islam. Mereka terjebak oleh lingkungan yang notabene sangat rusak.

Namun, meskipun begitu, ada juga remaja yang masih tetap istiqomah dalam memegang islam, karena mereka yakin bahwa mereka adalah muslim, mereka adalah peletak suatu perubahan. Oleh karena itu, mereka terus menyuarakan islam, berdakwah agar islam bisa jaya kembali layaknya dahulu.

Ada beberapa pesan untuk remaja yang ingin saya sampaikan. Semoga pesan ini dapat menjadi nasihat yang baik pada remaja.

Jadilah remaja islam yang hebat!

Remaja hebat bukanlah remaja yang pacarnya banyak serta sering gonta-ganti pacar. Bukan pula mereka yang kerjaaan sering mabuk dijalanan. Bukan pula mereka yang kerjaannya di sekolah Cuma melanggar tata tertib yang berlaku. Bukan pula mereka yang terjerat pemakai narkoba.

Lalu siapa dia?

Dia adalah remaja pejuang islam. Dia yang selalu istiqomah dalam islam, memperjuangkannya, berdakwah, dan selalu ibadah pada Allah. Yang dengan itulah, ia akan di naungi oleh Allah di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Rasulullah saw bersabda;

Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah disaat tidak ada naungan kecuali naungannya; pemuda yang beribadah semasa hidupnya.

Banyak remaja hebat yang dapat kita jumpai di masa Rasulullah saw dan generasi-generasi selanjutnya. Tahukah kamu Mush’ab bin umair? Ia adalah pemuda hebat. Dialah yang mendakwahkan islam di Madinah pada saat itu, hingga sebagian besar penduduk—termasuk tokoh-tokohnya—masuk islam. Jasa-jasanya sangat luar biasa terhadap islam. Dia meninggalkan kemewahan dunia hanya semata-mata untuk islam. Bahkan, sebelum ia masuk islam, ia bersih, harum dengan berpakaian mewah. Namun demi islam, ia tinggalkan semua kemewahan itu.

Selain Mush’ab bin Umair, ada lagi sosok pemuda yang sangat hebat, bahkan di umurnya yang belum 21 tahun, ia sudah bisa merealisasikan bisyarah ( kabar gembira) dari Rasulullah saw yaitu menaklukkan kota konstantinopel, ibu kota Bizantium. Siapa dia? Dialah sultan Muhammad al fatih atau biasa di kenal dengan sebutan Mehmed. Dia adalah pemuda hebat. Di umur yang masih muda, dia sudah mendapat predikat pemimpin yang terbaik, berdasarkan hadits yang mulia Rasulullah saw ;

sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya”[1]

Kesungguhan dia sepatutnya harus dicontoh remaja-remaja saat ini. Dengan bimbingan dari guru terbaik pada zamannya yakni Syeikh Ahmad Al Qurani dan Aaq Syamsuddin, ia tumbuh menjadi pemuda yang hebat yang tidak mengenal putus asa. Kedekatannya pada Allah sangat luar biasa. Bahkan dialah pemuda yang tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud[2]. Sungguh! Inilah teladan remaja terbaik yang mesti kita teladani kepribadiannya.

Dua pemuda ini adalah pemuda yang sangat luar biasa. Dari segi kepribadian, ia adalah pemuda yang berkepribadian yang baik yang terpancar dari islam. Ia telah menjadikan Al-quran sebagai pedoman hidupnya. Tentunya, kita juga harus begitu, meskipun kita mungkin tidak bisa seperti pemuda ini. akan tetapi, setidaknya kita meneladani mereka.

Kita sebagai lelaki muslim, tentu harus berpedoman pada Al-quran dan as-sunnah. Kita harus selalu berada dalam koridor islam. tak boleh sekalipun bergeser dari koridor itu. Kita harus mencontoh kedua pemuda di atas, yang begitu luar biasa dalam islamnya. Dengan demikian, kita akan jadi pemuda yang luar biasa, juga menjadi remaja islam hebat

Manfaatkan masa muda!

Terkadang ada remaja yang mengatakan bahwa umur kita masih lama, gunakanlah masa muda kita untuk senang-senang. Katanya, nanti kalau kita udah tua baru tobat dan ibadah.

Nah, statement begini adalah statement yang salah. Pasalnya, kita tidak tahu kapan kita meninggal. Boleh jadi minggu depan, besok, hari ini, bahkan detik ini. kita tidak tahu kapan ajal kita menjemput. Oleh karena itu, selagi ada waktu, pergunakanlah waktu kita untuk ibadah padanya. Lagi pula, Allah memang telah menyeru manusia untuk bersegera—tanpa menunda-nunda—untuk ibadah. Allah swt berfirman;

Bersegeralah dalam ampunan dari tuhanmu dan surge yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa’[3]

 

Nah, inilah yang dilakukan remaja-remaja pada masa Rasulullah. Seperti misalnya Abdullah bin Amru bin Al ash. Di usianya yang masih muda, ia selalu menghatamkan Al-quran dalam waktu satu hari. Mengetahui hal itu, maka Rasulullah menyarankan kepada Abdullah untuk menghatamkan Al-qur’an dalam waktu 30 hari. Tapi, Abdullah mengatakan pada Rasulullah ‘’wahai Rasulullah! Biarkanlah aku menyelesaikan bacaan Al-quran seperti itu; karena aku masih kuat dan masih muda”,maka Rasulullah bersabda “selesaikanlah olehmu bacaan Al-quran pada setiap sepuluh hari” Abdullah menjawab “biarkanlah aku menyelesaikan dalam satu malam;karena aku masih kuat dan masih muda, ia tetap dalam pendiriannya”[4]

Sungguh! Dialah remaja yang sangat luar biasa,remaja yang sangat memahami bahwa masa muda dan masa kuat, adalah masa yang harus dipergunakan dengan sebaik-baik. Remaja ini sangat menyadari bahwa waktu adalah momentum yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Hal ini dilakukan karena ia tidak ingin tertipu oleh dua nikmat, yaitu nikmat sehat dan waktu luang. Dalam hal ini, Rasulullah saw pernah bersabda:

Ada dua nikmat, dimana banyak orang yang tetipu oleh keduanya; nikmat sehat dan waktu luang”[5]

Karena itulah, ia terus memanfaatkan waktu untuk ibadah, perjuangkan islam. yang dengan itulah ia menjadi mulia.

Maka, kita sebagai remaja muslim tentu harus memanfaatkan masa muda dan masa kuat kita untuk ibadah pada Allah. Jangan malah sebaliknya, waktu kita itu justru kita pergunakan untuk pacaran yang jelas-jelas hanya membuang sebagian besar waktu kita untuk maksiat.

Kalau kamu pacaran, maka sebenarnya kamu hanya memanfaatkan waktumu hanya untuk maksiat dengan dosa. Jangan sampai kamu hanya menjadi bagian dari orang-orang yang merugi. Yang lebih parah, jangan sampai kamu mati dalam bermaksiat pada Allah, maka tempat kamu jelas, yaitu neraka.

Ada suatu berita menarik yang beberapa waktu saya dapatkan di internet. Cerita itu menceritakan tentang seorang lelaki dan seorang wanita yang pacaran lalu di sambar petir. Mau tahu beritanya kayak bagaimana? Ok, langsung saja ya saya kutip beritanya;

“Dua sejoli tewas akibat tersambar petir ketika sedang berpacaran di kawasan objek wisata Curug Ceheng di Desa Gandapata, kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (10/12) petang.

            Korban adalah Darsono, 23 tahun dan pasangannya Hartini, 23 tahun, keduanya sama-sama warga jalan kartaja, RT 3/3 kelurahan Purwokerto Timur. Dari keterangan Kasman, saksi yang melihat kejadian tersebut, sekitar pukul 15.00 WIB, kedua pasangan berada di Kompleks Curug Ceheng rumah Joglo Aglonema, mereka berteduh karena turun hujan disertai angin, selain mereka ada dua sejoli lain.

            Darsono dan Hartini duduk di pojok kiri rumah pojok joglo, pasangan lain di pojok sebelah kanan timur.tiba-tiba ada petir disertai suara menggelegar. Cabang pohon albasia yang ada disamping joglo langsung tumbang tersambar petir.

            Setelah menghantam pohon albasia, petir menyambar salah satu penyangga joglo hingga patah. Darsono dan Hartini yang tak jauh dari tiang itu juga ikut tersambar. Hartini terlempar ke balik tembok. Sedangkan Darsono terkapar di lantai joglo.

            Dua saksi melihat peristiwa tersebut berteriak ketakutan. Kontan teriakan tersebut mengundang perhatian warga sekitar untuk datang kemudian langsung memberikan pertolongan. Mereka melihat Hartini yang tergeletak di rerumputan dalam kondisi sudah tewas. Sedangkan Darsono juga tewas dengan sekujur tubuhnya hangus terbakar. Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan, Darsono mengalami luka bakar dari dada hingga punggung. Rambutnya terbakar. Telinga kanan hingga leher bagian kanan juga luka bakar. Baju yang dipakainya robek-robek. Luka bakar juga ditemukan di bagian pinggang , kedua kaki dan betis kanannya. Sementara korban Hartini mengalami luka bakar di bagian wajah dan kakinya. Kepala kepolisian sector Sumbang Ajun Komisaris Sugito yang ada di tempat kejadian perkara mengatakan, adanya dua orang tewas akibat tersambar petir di objek Curig Ceheng. “Dua korban tewas akibat tersambar petir ketika sedang berteduh di rumah joglo.’’

Masruri , 50 tahun, orang tua Darsono dan kerabatnya kemudian datang ke lokasi. Dari keterangan pihak keluarganya, Hartini adalah teman dekat Darsono. Anaknya masih bujangan. Dia menjalin hubungan dengan Hartini yang berstatus janda. Mereka adalah tetangga karena tinggal satu RT.

Tapi keluarganya tak ada yang tahu kapan mereka pergi dari rumah. Keduanya pergi ke Curug Ceheng naik motor Honda Revo B-6668-TTZ milik Darsono.’’ [6]

            Nah Sobat! Bagaimana ceritanya, menarik kan? Bukan hanya menarik, tapi ceritanya juga menyeramkan tapi romantis. Kalau dibandingkan dengan cerita Romeo dan Juliet, mungkin cerita dari Darsono dan Hartini ini lebih romantis. Kenapa tidak, Darsono dan Hartini pergi sama-sama, boncengan sama-sama, berteduh sama-sama, dingin sama-sama, di sambar sama-sama dan mati pun sama-sama. Romantis bukan?

Dalam pandangan manusia, mungkin cerita itu adalah cerita yang menarik. Bahkan, kalau cerita ini di filmkan, mungkin akan dapat penghargaan. Tapi dalam pandangan islam, Darsono dan Hartini ini meninggal dalam keadaan su’ul Khatimah, karena ia meninggal dalam keadaan maksiat pada Allah swt.

Cerita ini sebetulnya harus memberikan kita pelajaran mengenai tentang ajal serta pentingnya kita untuk memanfaatkan waktu untuk ibadah. Karena jangan sampai kita meninggal dalam keadaan maksiat. Jika kita meninggal dalam keadaan maksiat, naudzu billah minzalik….

Oleh karena itu, kalau hari ini kamu masih pacaran, putuskan pacar kamu. Kamu tak mau kan, meninggal dalam keadaan su’ul khatimah? Kalau memang mau, tunggu apalagi, putuskan dia sekarang. Ambil hp kamu, telpon dia lalu bilang padanya “sayang kita putus”. Setelah kamu putus sama dia, bertobatlah! Sekaranglah saatnya kamu gunakan waktu dengan sebaik-baik untuk ibadah.

Iklan

Phubbing Budaya Baru Efek Teknologi

Phubbing adalah istilah sibuk main hp dan mengabaikan orang dihadapan kita, itulah yang terjadi, pola anti social. Stop phubbing kalau kita sedang berhadapan atau sedang dalam pertemuan. Ini kata baru dan sedang diadakan campaign anti phubbing.

JAUHI PHUBBING

Enam tahun silam, tepatnya pada bulan Mei 2012 para ahli bahasa, sosiolog, dan budayawan berkumpul di Sidney University. Hasil pertemuan tersebut melahirkan satu kata baru dalam tata bahasa Inggris.

Kata tersebut adalah phubbing. Yaitu sebuah tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan gadget di tangannya, sehingga ia tidak perhatian lagi kepada orang yang berada di dekatnya.

Karena sudah menjadi fenomena yang sangat umum, dunia sampai memerlukan sebuah kata khusus untuk penyebutannya. Kini kata phubbing secara resmi sudah dimasukkan dalam kamus bahasa Inggris di berbagai negara.

Sejauh penelusuran saya, bahasa Indonesia belum memiliki kata serapan dari phubbing ini. Padahal kita sendiri sering berbuat phubbing. Misalnya saat berbicara dengan petugas teller di bank, tangan kita sambil memainkan gadget.

Ketika menemani anak-anak mengerjakan tugas sekolah, setiap satu menit sekali kita melirik layar handphone kalau-kalau ada notifikasi yang masuk.

Pada momen makan berdua di restoran dengan istri, hape diletakkan sedekat mungkin di sisi kita dan mampu menyelak obrolan apapun ketika ada suara pesan dari medsos. Ya Rabb. Kita sudah menjadi phubber sejati.

Padahal Rasulullah sangat memperhatikan adab saat berbicara dengan orang lain. Dalam kitab Syamail Muhammadiyah, disebutkan Baginda Nabi selalu perhatian kepada lawan bicaranya. Bila ia tertawa maka Nabi ikut tertawa. Jika ia takjub terhadap apa yang sedang dibicarakan maka Nabi juga ikut takjub.

 “Dan Rasulullah tidak pernah memotong pembicaraan orang lain.” (Hadist Riwayat Tirmidzi)

Bahkan saya pernah duduk di suatu masjid untuk shalat Jumat, dan pemuda di samping saya bermain medsos sepanjang khutbah! Ini namanya bukan lagi phubbing kepada orang lain, tetapi kepada Allah!

Karena sejatinya sejak langkah pertama kita masuk ke baitullah (masjid) maka kita sudah berhadapan kepada Allah. Sungguh mengherankan kalau ada orang niat mau shalat Jumat ke masjid kok bawa hape.

Sumber : https://www.percikaniman.org/2018/06/09/phubbing-budaya-baru-efek-teknologi/

Arti dan Makna TAQWA

Sahabat Percikan Iman pasti mengetahui tujuan dari shaum (puasa) itu apa. Seperti yang tertulis dalam firman Allah Swt di QS.Al Baqarah : 13, Bahwa tujuan orang puasa adalah tidak lain tidak bukan agar mencapai level Taqwa.

Nah, problemnya apakah Taqwa itu sendiri? Seseorang yang ingin introspeksi ketaqwaan kepada dirinya (bukan kepada orang lain) harus memahami arti taqwa berikut juga dengan ciri-cirinya.

Takwa adalah seseorang beramal ketaatan pada Allah atas cahaya (petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya dan ia meninggalkan maksiat karena cahaya (petunjuk) dari Allah karena takut akan siksa-Nya. Tidaklah seseorang dikatakan mendekatkan diri pada Allah selain dengan menjalankan kewajiban yang Allah tetapkan dan menunaikan hal-hal yang sunnah.

Pengertian Taqwa secara Etimologi adalah Taqwa berasal dari kata waqa – yaqi – wiqayah yang artinya menjaga diri, menghindari dan menjauhi. Sedangkan pengertian Taqwa secara Terminologi adalah Taqwa adalah takut kepada Allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan tidak melanggar dengan menjauhi segala larangan-Nya serta takut terjerumus dalam perbuatan dosa. Taqwa terulang dalam Al-Qur’an sebanyak 259 kali dengan segala derivasinya—mengandung makna yang cukup beragam, di antaranya: memelihara, menghindari, menjauhi, menutupi, dan menyembunyikan.

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menguraikan dan mengkabarkan tentang ketaqwaan, diantaranya sebagai berikut :

Al Qur’an Surah Al Hujurat Ayat 13
13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Al Qur’an Surah Az Zumar Ayat 33-34
33. dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.
34. mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik,

Al Qur’an Surah Ali Imran Ayat 120
120. jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

Al Qur’an Surah Ali Imran Ayat 134
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Al Qur’an Surah Ali Imran Ayat 135
135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Al Qur’an Surah An Naba Ayat 31
31. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan,

Sedangkan didalam hadist, terdapat dalam sabda Nabi SAW :
Rasulullah SAW bersabda, “Takwa itu terletak di sini”, sambil beliau SAW menunjuk ke dada/hati beliau tiga kali. Rasulullah SAW dalam doa beliau, “Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu), Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya, (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya.”

Sumber : https://www.percikaniman.org/2018/06/13/arti-dan-makna-taqwa/

Enam Hikmah Ibadah Qurban

Qurban adalah bukti Kecintaan manusia kepada Allah sekaligus kecintaan kepada sesama. Qurban disyariatkan kepada yang mampu sebagai bukti diri mau mendermakan harta yang dicintai.

Setidaknya ada enam hikmah berkurban yang menandakan bahwa ibadah tahunan ini bukan hanya ibadah ritual saja.

“Hikmah pertama, kita tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat, kecuali jika kita mau mengorbankan apa yang kita cintai,”

Kedua, kehidupan ini tidak kekal, dan banyak hal yang terjadi secara tiba-tiba diluar perkiraan kita.

Ketiga, terkadang dalam kehidupan ini hal-hal yang kita cintai malah cepat pergi. Sebaliknya hal-hal yang kita benci justru datang terus-menerus.

Maka, Allah SWT menyebut kesenangan dunia sebagai kesenangan yang menipu. Karena akan sirna bahkan berubah menjadi malapetaka, jika cara kita menjalaninya tidak sesuai tuntunan Allah.

Keempat, manusia perlu ingat bahwa tidak setiap perkara yang kita benci pasti membawa mudharat bagi kehidupan. Terkadang yang terjadi adalah sebaliknya. “Musibah yang kita anggap akan mendatangkan malapetaka, ternyata malah membawa kita kepada kesuksesan besar dalam hidup,”

Kelima, kesenangan dunia yang diberikan Allah kepada kita, jangan sampai melalaikan kita dari beribadah kepada-Nya. berkurban adalah berjuang dengan memberikan sesuaatu yang telah dimiliki secara benar ats daasan taqwa dan sabar.

Keenam, pengakuan iman memerlukan bukti. Dan Allah Swt menguji salah satunya dengan syariat ibadah Qurban.

“Berkurban sendiri harus dilaksanakan atas dasar takwa, sabar, dan berharap ridho Allah agar harta dan jasa yang telah dikeluarkan menjadi sia-sia,”

 

Sumber : https://www.percikaniman.org/2018/07/13/enam-hikmah-ibadah-qurban/

manfaat puasa bagi kesehatan

Dengan demikian , maka hikmah dan manfaat dari menjalankan puasa ramadhan bagi yang menjalankannya adalah:

1. Melatih diri Untuk menjadi pribadi yang Lebih tabah dan sabar

Di bulan ramadhan , seperti yang telah di bahas sebelumnya bahwasannya , kita menjalankan puasa bukan sekedar menahan lapar dan haus . Akan tetapi dengan kita melakukan puasa ramadhan maka kita akan dilatih untuk terbiasa dapat menahan amarah , serta tidak berburuk sangka terhadap orang lain . Dan kita juga akan terbiasa untuk bersabar menghadapi sesuatu , tidak mudah untuk terpancing oleh omongan – omongan orang lain tentang diri kita .

Maka , dengan demikian kita dapat menjadi pribadi yang sabar dan tabah bukan hanya di bulan ramadhan , namun di bulan – bulan selanjutnya .

2. Tercapainya derajat ketaqwaan seseorang 

Dengan menjalankan ibadah puasa , maka seseorang akan menjalankan kebaikan – kebaikan seperti yang Allah swt perintahkan dan menjauhi semua larangan Allah swt . Dengan demikian , maka dengan menjalankan ibadah puasa maka seseorang mampu menjadi pribadi yang lebih bertaqwa lagi kepada Allah swt . Dan di bulan ramadhan juga , kita sebagai orang muslim yang menjalankan ibadah puasa akan merasa selalu di awasi oleh Allah swt , semangat untuk melakukan hal – hal yang diperintahkan oleh Allah swt serta lebih mendekatkan diri kepada Allah swt .

adversitemens

Maka dari itu , hikamah dari berpuasa ramadhan adalah menjadikan seseorang bertaqwa kepada Allah swt .

3. Melatih seseorang menjadi lebih menghargai waktu ( lebih disiplin ) 

Seseorang yang menjalankan puasa , maka hidupnya akan lebih teratur . Sebagai contoh kita yang tidak terbiasa bangun pagi , dengan menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan maka kita akan lebih teratur bangun pagi untuk menjalankan makan sahur . Dan bagi yang makannya tidak teratur dengan puasa makannya akan teratur yaitu ketika sahur dan berbuka puasa . Dengan terbiasanya bangun pagi , maka di bulan – bulan selanjutnya hidupnya akan teratur dan yang pasti tidak malas untuk bangun pagi .

4. Melatih seseorang menjadi lebih Bersyukur 

Disaat kita menjalankan ibadah puasa , kita hanya makan dua kali di saat berbuka puasa dan waktu sahur . Dengan demikian , maka kita akan lebih merasa bersyukur dengan apa yang kita makan  selama ini ketika kita tidak berpuasa . Dengan demikian rasa syukur itu akan muncul pada diri seseorang tersebut .

5. Menjadikan seseorang Lebih pedulli terhadap sesama 

Sesama muslim adalah saudara . Dan ikatan itu di bulan ramadhan sangat terjalin dengan erat . Hal ini dapat kita lihat dari beberapa contoh diantaranya adalah :

  • Memberi makan tajil untuk berbuka , secara cuma – cuma ( berbuka puasa gratis )
  • Shalat berjama’ah
  • Saling berbagi ilmu agama

Dan kebiasaan ini , akan terjalin dan terbiasa di bulan – bulan di luar bulan ramadhan .

6. Mempererat silaturahmi

Dengan kita menjalankan ibadah puasa , dan kita setiap malam menjalankan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengaji di masjid . Maka dengan adanya kegiatan seperti itu setiap hari dan menjadikan setiap hari bertemu , maka yang awalnya tidak pernah bertemu menjadi bertemu yang biasanya tidak akrab menjadi akrab . Dan kebiasaan ini juga akan berlanjut di bulan – bulan di luar bulan ramadhan .

7. Semua hal yang dilakukan adalah ibadah 

Semua hal atau perbuatan baik bernilai ibadah . Apalagi di bulan ramadhan , bulan dimana pahala kita dilipatgandakan . Dengan membiasakan diri dbulan ramadhan untuk berbuat baik , maka kita akan terbiasa di hari – hari di bulan di luar bulan ramadhan .

8. Membiasakan diri untuk berhati – hati dalam berbuat 

Dengan menjalankan ibadah puasa , maka kita akan menghidari hal – hal yang dapat mengurangi pahala puasa kita yaitu dengan menjaga lisan , perbuatan dan hati . Dengan demikian setelah kita membiasakan diri berbuat baik di bulan ramadhan , kita akan terbiasa serta akan berhati – hati dalam bertindak . Karena ingat bahwa Allah swt mengetahui semua hal yang kita kerjakan .

9. Melatih diri untuk Hidup sederhana

Ketika kita makan di waktu berbuka , pasti kita akan merasakan betapa nikmatnya berbuka puasa tersebut walaupun berbuka hanya dengan air putih dan sesuap nasi . Dengan merasakan hal itu , pasti kita akan sadar dan kita akan lebih menghargai makanan serta akan melatih diri kita untuk lebih sederhana dalam hidup . Karena sesungguhnya Allah swt tidak menyukai dengan hal yang berlebihan . Dan lebih menyukai hal yang sederhana .

10. Menunjukkan Keseimbangan Hidup

Berpuasa , adalah bentuk ibadah seorang hamba kepada Allah swt . Dan sesungguhnya Ibadah adalah kewajiban kita sebagai manusia sebagi seorang hamba Allah swt . Dengan menjalankan puasa di bulan ramadhan , maka kita telah menjalankan kewajiban untuk bekal kelak di akhirat .

Serta keseimbangan hidup kita yaitu kebutuhan dunia dan akhirat , dengan kata lain dengan berpuasa maka kita telah menjalankan kebutuhan akhirat dan sejenak meninggalkan kebutuhan dunia . Karena kebutuhan dunia jika akan diikuti bakal tidak ada ujungnya atau dengan kata lain kepuasan dari diri manusia tidak ada ujungnya . Namun yang perlu diingat kepentingan dunia dan akhirat harus seimbang .

 

sumber : http://warohmah.com/hikmah-menjalankan-puasa-ramadhan/